Di tengah masyarakat yang semakin kompleks dan beragam, dibutuhkan figur pemimpin yang tak hanya kuat secara struktural, tetapi juga bijak secara spiritual. Sosok Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), menjadi contoh nyata bagaimana nilai toleransi dan keimanan bisa berpadu dalam kepemimpinan militer yang tegas namun penuh makna.
Sebagai pemimpin, Jenderal Dudung dikenal bukan hanya karena ketegasannya dalam menjaga kedaulatan dan kedisiplinan TNI, tetapi juga karena sikap keberagamaannya yang moderat dan menyejukkan. Ia membawa pendekatan keagamaan yang inklusif dan berakar kuat pada nilai-nilai persatuan bangsa.
Keimanan sebagai Fondasi Kepemimpinan
Lahir dari keluarga yang religius dan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam dengan damai di Nusantara, Dudung tumbuh dengan pondasi keimanan yang kokoh. Namun, pemahamannya tentang agama tidak sempit. Ia melihat bahwa agama adalah sumber kedamaian, bukan alat pemecah belah.
Dalam berbagai pidatonya, Jenderal Dudung sering menyampaikan bahwa beragama bukan soal simbol dan fanatisme, tetapi soal akhlak, kasih sayang, dan perbuatan baik.
“Tuhan kita bukan orang Arab. Yang penting dalam beragama adalah perbanyak berbuat baik,” tegasnya dalam sebuah wawancara yang kemudian menjadi sorotan publik.
Pernyataan tersebut bukan untuk menistakan ajaran, melainkan sebagai bentuk ajakan agar umat Islam di Indonesia memahami esensi agama dalam konteks budaya dan kebangsaan.
Toleransi dalam Tindakan, Bukan Sekadar Ucapan
Keimanan yang dimiliki Jenderal Dudung tidak hanya berhenti pada tataran pribadi. Ia menerapkannya dalam kebijakan dan tindakannya sebagai pemimpin militer. Dudung kerap mendorong kerukunan antarumat beragama, serta melibatkan tokoh-tokoh agama dari berbagai latar belakang dalam kegiatan TNI.
Di lingkungan militer sendiri, ia memperkuat pembinaan mental dan spiritual prajurit, bukan hanya dari sisi Islam, tetapi juga dari keyakinan lain. Ia ingin memastikan bahwa setiap prajurit merasa dihormati keyakinannya, sekaligus memahami pentingnya menjaga keharmonisan bangsa.
Melawan Radikalisme dan Intoleransi
Salah satu hal paling menonjol dari Jenderal Dudung adalah sikap tegasnya terhadap kelompok-kelompok radikal yang menggunakan agama sebagai tameng. Saat menjabat sebagai Pangdam Jaya, ia memerintahkan penurunan baliho tokoh ormas yang dianggap menyebarkan kebencian dan mengancam ketertiban umum.
Tindakan tersebut bukan dimaksudkan sebagai anti-agama, melainkan sebagai upaya menjaga marwah agama dan negara dari penyalahgunaan simbol-simbol keagamaan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Bagi Jenderal Dudung, toleransi bukan berarti membiarkan penyimpangan, melainkan berani mengambil sikap demi menjaga kedamaian dan keutuhan bangsa.
Menjadikan Islam sebagai Rahmat, Bukan Ancaman
Dalam banyak forum, Dudung menegaskan bahwa Islam adalah agama rahmat, bukan teror. Ia mengajak umat Islam untuk tidak mudah tersulut provokasi, dan fokus pada nilai-nilai kebaikan seperti membantu sesama, menebar kasih sayang, dan menjaga persatuan.
Gagasan ini sejalan dengan misi Islam Nusantara dan prinsip-prinsip dakwah Wali Songo yang menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya, bukan kekerasan.
Warisan Toleransi untuk Bangsa
Jenderal Dudung Abdurachman telah memberikan kontribusi penting dalam memperkuat wajah Islam yang damai dan penuh kasih di Indonesia, khususnya di lingkungan militer. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa keimanan tidak membuat seseorang eksklusif, justru menjadikannya lebih terbuka, bijak, dan penuh kasih terhadap sesama.
Melalui tindakan nyata dan pemikiran yang terbuka, ia telah menjadi simbol toleransi dan keimanan yang seimbang. Bagi generasi muda dan seluruh rakyat Indonesia, sosoknya menjadi teladan bahwa di tengah keragaman, kita bisa tetap bersatu dengan landasan nilai-nilai agama yang mencerahkan, bukan memecah.






